Jumat, 11 Oktober 2013

VERTIKULTUR DARI PARALON BEKAS


Dalam pemanfaatan pekarangan yang memiliki luasan sempit, metode tanam mengunakan pot dan vertikultur merupakan satu – satunya alternatif. Vertikultur merupakan sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat,  baik didalam ruangan  maupun  diluar ruangan.  Lahan  1  meter mungkin  hanya  bisa  untuk menanam  5 batang  tanaman,  dengan  sistem  vertikal  bisa  untuk  20  batang  tanaman.  Vertikultur tidak hanya sekadar kebun vertikal, namun ide ini akan merangsang seseorang untuk menciptakan  khasanah  biodiversitas  di  pekarangan  yang  sempit  sekalipun.  Struktur vertikal memudahkan  pengguna  membuat  dan  memeliharanya.  Pertanian  vertikultur tidak  hanya sebagai  sumber  pangan  tetapi  juga  menciptakan  suasana   alami  yang menyenangkan, terutama untuk memperindah halaman rumah.

Model,  bahan,  ukuran,  wadah  vertikultur  sangat  banyak dan variatif, tinggal  disesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan adalah paralon bekas. Berikut akan diuraikan cara membuat vertikultur dari paralon bekas.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan vertikultur dari paralon bekas antara lain :

·       Paralon ukuran minimal 5 inci, sebaiknya ukuran tinggi maksimalnya 1 meter saja supaya tidak ketinggian.
·       Gergaji
·       Meteran
·       Spidol atau pensil untuk menandai
·       Pemanas, bisa obor, lilin.
·       Pot atau baskom bekas (atau apa saja yang bisa dijadikan wadah untuk pot)
·       Semen dan pasir
·       Cat

Cara Membuat

1. Buat empat titik sentral di bagian atas atau bawah lubang paralon, gunanya untuk membagi paralon menjadi empat sisi yang sama. Titik sentral ini akan menjadi acuan dalam menarik garis lurus untuk digergaji.
 









 

 


2. Buatlah garis atau tanda untuk lubang di dinding paralon dengan acuan titik sentral tadi. Jarak antar garis atas bawah masing-masing 20cm. Lebar garis 6-10 cm, yang penting ujung garis tidak bersentuhan dengan ujung garis lainnya di kanan kiri. Buat garis-garis tersebut selang-seling. Sisi yang berhadapan depan belakang posisi garis-garisnya sama. Setelah semua garis jadi, gergaji sesuai ukuran.
 
 
 

3. Panaskan sisi bagian atas dari garis yang digergaji sampai agak lunak, lalu tekuk ke dalam menggunakan kain lap agar tangan tidak kepanasan. Tahan sebentar, lalu lepaskan, dengan sendirinya paralon akan mengeras bila sudah dingin.
 
 
4. Menyiapkan semen dan pot
 
Yang namanya vertikultur paralon sudah pasti memiliki bentuk memanjang dan penampangnya kecil. Jika tidak diberi pemberat, maka paralon akan mudah jatuh bila diterpa angin atau disentuh, apalagi kalau memasukkan media tanam dan tanamannya tumbuh membesar nantinya. Maka untuk menghindari hal itu, di bagian bawah paralon harus dicor atau disemen di dalam pot yang ukurannya disesuaikan. Lilitkan besi tipis atau kawat yang agak tebal (kalau ada) ke bagian bawah paralon agar cengkeramannya lebih kuat mengikat ke semen, kalau tidak ada juga tidak apa-apa. Tegakkan paralon dan pastikan posisinya lurus di dalam pot atau baskom (tidak perlu sampai menyentuh dasar pot), lalu masukkan adukan semen tadi ke dalam pot sampai tinggi secukupnya. Siram pot dengan air sampai penuh agar dihasilkan cor yang keras. Semen yang keras ini akan menjadi pemberat bagi paralon.
 
5. Agar tampilan lebih bersih dan rapi, cat paralon sesuai warna yang diinginkan. Jangan lupa juga membuat lubang pembuangan air berlebih di dinding bawah paralon (dekat semen).
 
 
Sekarang paralon bekas sudah berubah menjadi pot tanam yang cantik, tinggal diisi media tanam saja berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang/kompos.
Semoga sedikit paparan tentang pembuatan vertikultur dari paralon bekas bisa memberi inspirasi bagi anggota KWT Dahlia untuk variasi dalam pemanfaatan pekarangan. Sedikit kreatifitas akan memperindah tampilan pekarangan rumah kita.
 
Disusun Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.
Penyuluh pertanian di BP3K TERSONO KAB. BATANG
(Sumber : www.dkwek.com)
 

Jumat, 20 September 2013

PRINSIP PERTANIAN ORGANIK


Dengan pertumbuhan penduduk dunia yang terus meningkat, kebutuhan akan bahan pangan pun semakin tinggi. Tuntutan untuk memproduksi bahan pangan yang lebih banyak demi terpenuhinya kebutuhan penduduk dunia mau tidak mau membebani lahan pertanian yang luasannya semakin menyusut setiap tahunnya. Eksploitasi terus menerus sumber daya alam dengan aplikasi pupuk, herbisida dan pestisida kimia melebihi rekomendari telah berdampak pada menurunnya kualitas lahan pertanian yang secara lansung mempengaruhi produksi bahan pangan.

Hal tersebut telah menggugah hati segelintir orang untuk kembali menengok ke belakang sebelum revolusi hijau terjadi. Kepedulian manusia tentang kondisi lingkungan mulai bangkit. Gerakan kembali ke alam didengungkan ke seantero dunia oleh para aktivis lingkungan. Mulai dari penggunaan alat dan bahan dalam kehidupan sehari – hari sampai ke penerapan pertanian yang lebih ramah lingkungan. Akhirnya muncullah suatu konsep praktek pertanian yang kembali ke alam dan biasa di sebut dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah sistem pertanian holistik/menyeluruh yang mendukung dan mempercepat biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Pemulihan lahan pertanian yang mengalami penurunan kualitas dilakukan secara bertahap dengan mengaktifkan kembali makhluk hidup yang ada di tanah dan sedikit demi sedikit memperbaiki kondisi biologis, fisik, dan kimia tanah.

Dalam pertumbuhan dan perkembangan pertanian organik, berkembanglah prinsip-prinsip yang merupakan dasar bagi pertanian organik. Prinsip-prinsip ini berisi tentang sumbangan yang dapat diberikan pertanian organik bagi dunia, dan merupakan sebuah visi untuk meningkatkan keseluruhan aspek pertanian secara global. Prinsip – prinsip tersebut adalah Prinsip kesehatan, Prinsip ekologi, Prinsip keadilan dan Prinsip perlindungan.

1.    Prinsip kesehatan
     Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Prinsip ini menunjukkan bahwa kesehatan tiap individu dan komunitas tak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem; tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman sehat yang dapat mendukung kesehatan hewan dan manusia.

Kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem kehidupan. Hal ini tidak saja sekedar bebas dari penyakit, tetapi juga dengan memelihara kesejahteraan fisik, mental, sosial dan ekologi. Ketahanan tubuh, keceriaan dan pembaharuan diri merupakan hal mendasar untuk menuju sehat.

Peran pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi dan konsumsi bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan kesehatan ekosistem dan organisme, dari yang terkecil yang berada di dalam tanah hingga manusia. Secara khusus, pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan.Mengingat hal tersebut, maka harus dihindari penggunaan pupuk, pestisida, obat-obatan bagi hewan dan bahan aditif makanan yang dapat berefek merugikan kesehatan.

2.    Prinsip ekologi

Pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan.

 Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Makanan dan kesejahteraan diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang khusus; sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang subur, hewan membutuhkan ekosistem peternakan, ikan dan organisme laut membutuhkan lingkungan perairan.

Budidaya pertanian, peternakan dan pemanenan produk liar organik haruslah sesuai dengan siklus dan keseimbangan ekologi di alam. Siklus-siklus ini bersifat universal tetapi pengoperasiannya bersifat spesifik-lokal. Pengelolaan organik harus disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal. Bahan-bahan asupan sebaiknya dikurangi dengan cara dipakai kembali, didaur ulang dan dengan pengelolaan bahan-bahan dan energi secara efisien guna memelihara, meningkatkan kualitas dan melindungi sumber daya alam.

Pertanian organik dapat mencapai keseimbangan ekologis melalui pola sistem pertanian, membangun habitat, pemeliharaan keragaman genetika dan pertanian. Mereka yang menghasilkan, memproses, memasarkan atau mengkonsumsi produk-produk organik harus melindungi dan memberikan keuntungan bagi lingkungan secara umum, termasuk di dalamnya tanah, iklim, habitat, keragaman hayati, udara dan air.

3.    Prinsip keadilan

Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama.
Keadilan dicirikan dengan kesetaraan, saling menghormati, berkeadilan dan pengelolaan dunia secara bersama, baik antar manusia dan dalam hubungannya dengan makhluk hidup yang lain. Prinsip ini menekankan bahwa mereka yang terlibat dalam pertanian organik harus membangun hubungan yang manusiawi untuk memastikan adanya keadilan bagi semua pihak di segala tingkatan; seperti petani, pekerja, pemroses, penyalur, pedagang dan konsumen.

Pertanian organik harus memberikan kualitas hidup yang baik bagi setiap orang yang terlibat, menyumbang bagi kedaulatan pangan dan pengurangan kemiskinan. Pertanian organik bertujuan untuk menghasilkan kecukupan dan ketersediaan pangan maupun produk lainnya dengan kualitas yang baik.

Prinsip keadilan juga menekankan bahwa ternak harus dipelihara dalam kondisi dan habitat yang sesuai dengan sifat-sifat fisik, alamiah dan terjamin kesejahteraannya. Sumber daya alam dan lingkungan yang digunakan untuk produksi dan konsumsi harus dikelola dengan cara yang adil secara sosial dan ekologis, dan dipelihara untuk generasi mendatang. Keadilan memerlukan sistem produksi, distribusi dan perdagangan yang terbuka, adil, dan mempertimbangkan biaya sosial dan lingkungan yang sebenarnya

4.    Prinsip perlindungan

Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup.

Pertanian organik merupakan suatu sistem yang hidup dan dinamis yang menjawab tuntutan dan kondisi yang bersifat internal maupun eksternal. Para pelaku pertanian organik didorong meningkatkan efisiensi dan produktifitas, tetapi tidak boleh membahayakan kesehatan dan kesejahteraannya. Karenanya, teknologi baru dan metode-metode yang sudah ada perlu dikaji dan ditinjau ulang. Maka, harus ada penanganan atas pemahaman ekosistem dan pertanian yang tidak utuh.

Prinsip ini menyatakan bahwa pencegahan dan tanggung jawab merupakan hal mendasar dalam pengelolaan, pengembangan dan pemilihan teknologi di pertanian organik. Ilmu pengetahuan diperlukan untuk menjamin bahwa pertanian organik bersifat menyehatkan, aman dan ramah lingkungan. Tetapi pengetahuan ilmiah saja tidaklah cukup. Seiring waktu, pengalaman praktis yang dipadukan dengan kebijakan dan kearifan tradisional menjadi solusi tepat.

Pertanian organik harus mampu mencegah terjadinya resiko merugikan dengan menerapkan teknologi tepat guna dan menolak teknologi yang tak dapat diramalkan akibatnya, seperti rekayasa genetika (genetic engineering). Segala keputusan harus mempertimbangkan nilai-nilai dan kebutuhan dari semua aspek yang mungkin dapat terkena dampaknya, melalui proses-proses yang transparan dan partisipatif.

Prinsip – prinsip pertanian organik tersebut sesuai dengan kegiatan anggota KWT dalam pemanfaatan pekarangan. Dengan prinsip kesehatan, anggota KWT menjaga kesehatan keluarga dan lingkungan sekitarnya dengan tidak menggunakan bahan berbahaya seperti pestisida kimia dalam perawatan sayuran di pekarangan sehingga berkontribusi dalam prinsip ekologi. Prinsip keadilan berhubungan dengan lingkungan sekitar dan prinsip perlindungan secara otomatis terkait dengan prinsip kesehatan. Keempat prinsip pertanian organik tersebut memang saling terkait, tak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Mari kita sama – sama menerapkan prinsip –  prinsip pertanian organik dalam kehidupan sehari – hari kita.

 

Disusun Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.
Penyuluh pertanian di BP3K TERSONO KAB. BATANG

(Sumber : www.ifoam.org, 2005)

Jumat, 23 Agustus 2013

PENYEMAIAN TANAMAN SAYURAN


Setelah memiliki benih, untuk menanam sayuran diperlukan proses penyemaian benih hingga tumbuh menjadi bibit. Dalam kehidupan sehari – hari banyak orang yang menganggap biji, benih dan bibit sebagai hal yang sama, padahal ketiganya berbeda. Biji didefinisikan sebagai salah satu bagian dari tanaman yang berfungsi untuk perbanyakan dan penyebaran tanaman secara alami, dalam rangka menjamin keberadaan tanaman tersebut di muka bumi ini. Sedangkan benih adalah biji tanaman yang telah mengalami perlakuan sehingga dapat dijadikan sebagai sarana dalam perbanyakan tanaman. Sementara bibit adalah benih yang telah disemai dan berkecambah menjadi tanaman muda yang siap ditanam di lahan.

 
Sebelum mengalami proses penyemaian yang perlu diperhatikan adalah kondisi benih dalam keadaan sehat, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan bibit dan produksi di lapangan. Hal yang sering terlupakan dengan kualitas/kesehatan benih adalah wadah benih.Wadah benih yang dimaksud adalah wadah benih yang tidak menimbulkan bakteri/jamur pada benih seperti kondisi tempat yang lembab, tempat bekas benih yang berpenyakit, tempat tanpa tutup / berudara dan lain sebagainya. Jadi pastikan tempat benih itu steril bebas dari kuman dan penyakit.

 

1. Pengecekan benih

Pada saat benih akan disemai perlu dilakukan pengecekan, kegiatan yang perlu dilakukan antara lain :

a) Kualitas benih (warna benih kelihatan tampak cerah, tidak berjamur, kering/tidak lembab, tidak berkutu atau bolong karena kutu dll).

b) Jumlah benih sesuai dengan yang dibutuhkan.

c) Varietas benih sesuai dengan tanaman yang mau disemai.

 

2. Teknik penyemaian

Penyemaian dapat dilakukan dengan cara:

a.       Semai alur,

benih terlebih dahulu direndam setelah itu ditiriskan sampai kering baru kemudian benih ditebar menurut alur pada sebuah kotak kecil


 
b.      Disemai di polibag kecil, plastik kecil atau pot tray,

benih disemai dua buah untuk tiap polibag kecil atau pot tray, sebagai cadangan kalo benih yang satu tidak tumbuh menjadi bibit. Bila keduanya tumbuh, cabut bibit yang pertumbuhannya kurang baik pertahankan yang paling baik.
 
 
 

c.       Ditebar di lahan,

benih langsung ditebar di atas bedengan.

 

3. Semai (Penyemaian)

 Dalam hal semai dan penyemaian yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

A. Media Semai



1)   Bahan untuk media

- Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan media terdiri dari :

  a). Tanah

       Tanah yang digunakan yaitu tanah yang kaya akan kandungan unsur hara baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro supaya pada awal pertumbuhannya bibit dapat berkembang secara normal. Karena 60% keberhasilan di lapangan tergantung pada kondisi bibit. Tekstur tanah yang remah/halus akan mempermudah pertumbuhan akar.

b). Kompos/pupuk kandang

        kompos/pupuk kandang ditambahkan untuk mensuplai unsur hara makro dan mikro ke dalam media semai.

c). Arang sekam/pasir/serbuk gergaji

        Arang sekam/pasir/serbuk gergaji ditambahkan ke dalam media semai untuk meningkatkan aerasi udara dan porositas tanah.

 
2)    Cara Pembuatan media

Pada umumnya media yang digunakan untuk persemaian/bibit harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: gembur, remah dan subur. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan media yang digunakan untuk tanaman di lapangan. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan maka yang perlu dilakukan antara lain :

-  Pengecekan bahan seperti tanah, kompos dan pupuk yang siap digunakan.

- Penakaran komposisi/perbandingan dalam pembuatan, sebelum dilakukan pengadukan.

- Tempat pembuatan media semai kondisinya mudah dilakukan pengadukan dan aman dari kelembaban seperti kena air hujan.

Prosedur pembuatan media :

- Siapkan alat dan bahan seperti cangkul, ayakan, tanah dan kompos/pupuk kandang.

- Komposisi/perbandingan yang dipakai yaitu 1 :1 : 1 (Tanah : Kompos / pupuk kandang : arang sekam).

- Pengadukan. Tips supaya pengadukan bisa merata yaitu tanah diletakkan di bagian bawah terlebih dahulu, lalu kompos/pupuk kandang kemudian baru arang sekam, jika tersedia.

- Setelah diaduk dilakukan pengayakan, pisahkan beberapa bahan yang kasar.

- Setelah diayak kemudian baru didiamkan selama minimal 2 mingggu, semakin lama semakin baik. Proses ini dimaksudkan supaya bahan-bahan yang belum sempat terfermentasi punya kesempatan untuk melakukan fermentasi dan untuk menghidupkan bakteri yang menguntungkan dalam tanah.

3)   Perlakuan Pada Media

a. Pada musim hujan

- Tingkat kelembaban media jangan terlalu tinggi (cari tempat yang tidak terkena air pada musim hujan)

- Lamanya pendiaman media diusahakan minimal 4 minggu, lebih lama lebih baik karena pada musim hujan kondisi cuaca sangat labil.

- Kalau terlalu banyak penyakit (Phytium sp, Fusarium sp dll) media harus disangrai (suhu normal sangrai kurang dari 50° C)

b. Pada musim kemarau

- Tingkat kelembaban harus dijaga jangan terlalu rendah/kering, yaitu dengan :

 (1) Media harus banyak menggunakan campuran kompos.

 (2) Penyiraman pada media jauh lebih baik daripada di atas permukaan daun.

 
B. Perlakuan Pada Benih

Benih sebelum disemai sebaiknya dilakukan perendaman terlebih dahulu. Setiap jenis benih tanaman lama waktu perendamannya bervariasi. Hal ini tergantung dari tebal/tipisnya kulit benih. Seperti misalnya untuk jenis jagung manis, timun jepang/lokal, kangkung darat direndam selama 5 jam. Sedangkan untuk benih brokoli, petsay, pakchoy hijau, pakchoy putih, cabe rawit, terong, dll memerlukan perendaman selama 3 jam.

 

C. Tempat Persemaian

Tempat persemaian harus terlindung dari air hujan dan sinar matahari langsung. Akan tetapi persemaian tidak bisa dilakukan di tempat gelap karena bibit tanaman akan mengalami etiolasi yang menyebabkan pertumbuhan ke atas  sehingga batang tanaman lemah.

Buatlah naungan di atas media semai namun sinar matahari masih dapat masuk secara tidak langsung. Bahan naungan bisa dari daun kelapa, paranet, ataupun plastik UV.

Tempat persemaian juga harus memiliki akses mudah ke air untuk proses penyiraman.

 

4. Perawatan tanaman dalam persemaian

Perawatan bibit dalam persemaian meliputi :

·      Pengontrolan, baik terhadap kelembaban maupun terhadap serangan hama atau penyakit.

·      Penyiraman, untuk menjaga kelembapan media.

·      Penyiangan bibit dari gulma, untuk menghindari persaingan tanaman.

5. Penanaman Bibit

Bibit siap ditanam di lahan apabila telah berdaun 3 – 4 helai. Usahakan jangan sampai terlambat untuk memindahkan bibit ke lahan agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu. Pada waktu pemindahan bibit ke lahan, jagalah agar akar bibit tidak rusak sehingga mengurangi stres tanaman dan memperpendek tahap stagnasi / berhenti tumbuh.

 


Demikianlah cara menyemai tanaman sayuran untuk memenuhi kebutuhan bibit sayuran bagi ibu – ibu  anggota KWT. Semoga dapat mendukung kegiatan pemanfaatan pekarangan yang telah dilakukan ibu – ibu anggota KWT Dahlia.

 

Disusun Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.

Penyuluh pertanian di BP3K TERSONO KAB. BATANG

(Sumber : Pertanian Alami, Konsorsium YABI-WCS-YAPEKA, 2013)

 

Jumat, 19 Juli 2013

BAGAIMANA CARA MEMPRODUKSI BENIH SAYURAN SENDIRI ?


Benih merupakan salah satu unsur utama dalam dunia pertanian, sumber hayati yang sangat penting. Untuk menjamin kelestarian dari kegiatan pertanian maka diperlukan usaha untuk memproduksi benih yang unggul dan bermutu.
 

Meskipun dalam dunia modern telah dikenal banyak cara yang lebih mutakhir dalam usaha perbanyakan tanaman secara vegetatif seperti kultur jaringan, cangkok, menyambung, menempel dan lain sebagainya, perbanyakan tanaman secara generatif tetap harus dipertahankan untuk menjaga plasma nutfah dunia.

Untuk mendukung kegiatan pemanfaatan pekarangan, diperlukan pengetahuan tentang benih dan bagaimana cara memproduksinya. Harapannya anggota KWT bisa membuat benih sendiri secara berkelanjutan sehingga kegiatan pemanfaatan pekarangan dapat terus lestari.

Benih sayuran dapat dipanen dan disimpan untuk ditanam di masa mendatang, tetapi tidak semua jenis dapat disimpan benihnya. Jenis yang dapat dipanen dan disimpan termasuk varietas lokal yang telah cukup lama ditanam di satu daerah, jenis sayuran yang memiliki penyerbukan sendiri (misalnya kacang-kacangan), dan varietas OP (= open pollinated/penyerbukan terbuka) dari tanaman yang memiliki penyerbukan silang (misalnya cabai, mentimun dan wortel).

Benih dari varietas hibrida tidak dapat disimpan untuk ditanam kembali, karena generasi pertama dari benih hibrida dihasilkan dengan cara menyilangkan dua varietas yang berbeda. Benih dari tanaman hibrida bersifat mandul atau akan tumbuh menjadi tanaman yang ciri-cirinya berbeda dari tanaman induknya (sifat tanaman, usia panen, hasil dan keseragaman antar tanaman bervariasi).

Beberapa garis besar dalam produksi benih adalah  memilih tanaman yang sesuai, menanen benih tepat waktu dan menyimpan benih dengan cara yang benar. Bagian tersebut akan dibahas satu per satu.

1.    Pemilihan tanaman

Pemilihan tanaman merupakan langkah awal pada produksi benih. Salah satu hal penting dalam pemilihan tanaman adalah mengetahui jenis bunga tanaman tersebut. Secara garis besar, jenis bunga tanaman dibagi menjadi bunga sempurna dan bunga tidak sempurna.


Yang dimaksud dengan bunga sempurna adalah dalam satu bunga terdapat organ reproduksi  jantan (anther/ benang sari) dan betina (stigma/ putik). Beberapa tanaman sayuran yang memiliki bunga sempurna adalah terong, cabe, tomat.

Bunga Terong

Bunga jantan dan Betina Semangka, dikawinkan
 

 

 

 




Sedangkan bunga tidak sempurna adalah organ reproduksi jantan (anther/ benang sari) dan betina (stigma/ putik) terdapat dalam bunga yang berbeda meskipun pada tanaman yang sama. Beberapa tanaman sayuran yang memiliki bunga tidak sempurna adalah keluarga cucurbitaceae / timun – timunan dan jagung.

Setelah mengetahui jenis bunga dari tanaman tersebut, maka proses berikutnya yang perlu diketahui adalah penyerbukan. Penyerbukan atau pembuahan terjadi bila serbuk sari dari organ reproduksi jantan tertabur menyentuh putik / organ reproduksi betina. Beberapa bunga sempurna mengalami penyerbukan sendiri, beberapa yang lain memerlukan penyerbukan silang. Sedangkan tanaman berbunga tidak sempurna mutlak memerlukan penyerbukan silang. Penyerbukan silang dapat dibantu oleh angin, serangga, atau bahkan manusia.

Untuk pembuatan benih, diperlukan tanaman yang tumbuh dengan baik, sehat, kuat, tidak terserang hama penyakit, terjaga dari kontaminasi (pengaruh) varietas lain dari jenis yang sama dan berproduksi tinggi. Buah yang akan diambil bijinya untuk benih adalah buat terbaik dari tanaman tersebut. Hal ini dimaksudkan agar benih yang diproduksi dapat memiliki sifat – sifat terbaik tanaman tersebut.

2.    Pemanenan benih tepat waktu

Buah sumber benih harus masak sempurna di pohon baru dapat dipanen. Tujuan dari hal tersebut adalah agar biji yang akan digunakan untuk benih telah tumbuh dengan sempurna, siap untuk melanjutkan estafet kehidupan, menjaga keberlangsungan tanamam untuk tetap hidup di dunia ini. Apabila buah sumber benih belum masak sempurna maka memiliki benih yang muda juga sehingga tidak bisa berkecambah.

Yang terbaik untuk memetik benih adalah menjelang tengah hari, saat matahari bersinar dan cuaca cerah. Bila memanen benih pada musim hujan, Anda bisa memetik buah, benih, atau lebih baik lagi dengan mencabut seluruh tanamannya dan menggantungnya dekat perapian. Kelembaban sedikit saja akan membuat benih itu menjadi rusak.

3.    Penyimpanan benih dengan benar
     Setelah dipanen, sangat penting untuk menyimpan benih dengan benar supaya tetap hidup untuk ditanam di kemudian hari. Benih yang baru saja dipanen tidak boleh segera disimpan ke dalam kantong plastik karena masih memiliki tingkat kelembaban yang tinggi sehingga akan membusuk.

Sebelum disimpan benih harus dikeringkan lebih dahulu. Ingatlah bahwa benih tersebut masih hidup tetapi bernafas secara perlahan-lahan. Untuk menjaga supaya benih tetap hidup dalam jangka waktu yang panjang, benih perlu disimpan pada suhu dan kelembaban yang rendah.

 

Kelembaban udara yang tinggi menyebabkan aktifitas pernapasan yang tinggi dan meningkatkan penggunaan energi yang tersimpan dalam benih. Benih harus dikeringkan lebih dahulu sehingga kandungan airnya mencapai 7-8% sebelum disimpan. Simpanlah benih di dalam wadah dengan tutup yang rapat.

 Sinar matahari akan memperpendek usia hidup benih. Pakailah botol berwarna gelap atau wadah yang tidak tembus pandang untuk melindungi benih dari sinar matahari. Jika menggunakan wadah yang jernih, letakkan ke dalam kantong kertas untuk melindungi dari sinar matahari.

 Suhu yang ideal untuk menyimpan kebanyakan benih sayuran adalah kurang dari 15 °C. Benih dapat disimpan di dalam wadah kedap udara dan diletakkan di dalam lemari es. Untuk penyimpanan jarak pendek, simpanlah benih di tempat yang sejuk, kering dan gelap.
 
Kebanyakan benih sayuran dapat disimpan dengan baik selama 3 sampai 5 tahun. Letakkan benih ke dalam kantong kertas, kantong kain atau jaring, botol, kaleng atau kantong aluminium foil. Benih diberi label yang jelas berisi nama varietas, tanggal pembuatan, dan informasi-informasi lain yang berguna. Simpan benih di tempat yang sejuk dan kering.

Demikian sedikit informasi tentang proses produksi benih. Semoga dapat bermanfaat untuk anggota KWT dalam rangka mendukung kegiatan pemanfaatan pekarangan secara berkelanjutan sehingga dapat terwujud rumah pangan lestari.
 

Disusun Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.
Penyuluh pertanian di BP3K TERSONO KAB. BATANG
(Sumber : Panen dan menyimpan Benih Sayur-sayuran, Buku panduan untuk petani, AVRDC, 2012)