Rabu, 18 Desember 2013

PROYEK KRPL KWT DAHLIA


Alhadulillah pada pertengahan bulan November tahun 2013 kemarin, KWT Dahlia Desa Pujut mendapat bantuan 20 kg polibag dan aneka benih sayuran dari BP2KP Kab. Batang. Dengan bantuan tersebut, diharapkan KWT Dahlia dapat mewujudkan suatu Kawasan Rumah Pangan Lestari di Desa Pujut. Untuk tahap awal, dilakukan perencanaan tentang tindak lanjut bantuan tersebut.

Ibu Mas’udah telah menyerahkan pengelolaan kebun di depan rumahnya kepada KWT Dahlia. Para pengurus KWT Dahlia memutuskan membangun rumah penyemaian sederhana untuk memyemaikan benih sayuran yang diterima.

PROYEK KRPL KWT DAHLIA
Kebun KWT Dahlia di depan rumah ibu Mas'Udah


Rumah penyemaian sederhana di buat secara swadaya dengan bantuan Suami anggota KWT. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan KWT mendapat dukungan sepenuhnya dari keluarga.
PROYEK KRPL KWT DAHLIA
Rumah penyemaian sederhana KWT Dahlia



 Setelah terbentuk rumah penyemaian sederhana, ibu - ibu anggota KWT Dahlia bergotong royong membuat media penyemaian dan melakukan pengisian plastik untukpenyemaian sayuran.

PROYEK KRPL KWT DAHLIA
Ibu-ibu KWT Dahlia membuat media penyemaian


Mudah-mudahan apa yang diita-citakan KWT Dahlia untuk membuat Kawasan Rumah Pangan Lestari di Desa Pujut bisa terealisasi.


Jumat, 29 November 2013

TABULAMPOT, SOLUSI PENANAMAN BUAH UNTUK PEKARANGAN SEMPIT



Tanaman buah dalam pot atau biasa disingkat dengan tabulampot merupakan salah satu metode budidaya tanaman buah yang banyak diminati oleh penghobi tanaman buah terutama yang memiliki lahan sempit. Budidaya tanaman buah dalam pot (tabulampot) banyak disukai karena memiliki beberapa kelebihan / keuntungan terutama bagi penghobi tanaman buah yang tinggal di daerah perkotaan, diantaranya :
  1. Pemanfaatan lahan atau halaman sempit
  2. Mudah dipindah-pindah tanpa merusak tanaman
  3. Berfungsi sebagai tanaman hias
  4. Kebutuhan unsur hara mineral dan air dapat dipenuhi secara optimal
  5. Pemborosan pupuk dapat diminimalisasi karena pemberiannya sesuai dengan kebutuhan
  6. Mudah perawatannya terutama dalam penanggulangannya hama dan penyakit
  7. Menanggulangi kecenderungan punahnya beberapa jenis tanaman 
  8. Mudah dalam pengaturan masa berbunga dan berbuah sehingga akan diperoleh kontinuitas produksi sepanjang tahun


Inti dari tabulampot adalah mengkondisikan tanaman buah yang sebenarnya membutuhkan ruang tumbuh luas menjadi tanaman dengan ruang tumbuh sangat terbatas. Budidaya tabulampot sebenarnya tidak susah, hanya perlu niat dan sedikit meluangkan waktu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk budidaya tabulampot antara lain :

1.      Memilih varietas tanaman buah yang tepat
Hampir semua jenis tanaman buah bisa tumbuh dalam bentuk tabulampot. Tapi tidak semua tabulampot bisa menghasilkan buah. Karena meskioun bisa tumbuh subur, jenis-jenis tanaman tertentu belum bisa berbuah dalam lingkungan tabulampot.
Terdapat beberapa jenis tanaman buah yang lazim dijadikan tabulampot. Tingkat keberhasilan berbuahnya dikategorikan mudah, sulit dan belum berhasil. Beberapa tanaman dengan kategori mudah berbuah diantaranya jeruk, belimbing, sawo, mangga, jambu biji dan jambu air. Tanaman yang sulit berbuah antara lain rambutan, lengkeng, manggis, duku dan jambu bol.  Sedangkan tanaman alpukat dan durian masih belum berhasil berbuah optimal dalam lingkungan tabulampot.

2.      Memilih bibit yang sehat
Tingkat keberhasilan tabulampot sangat ditentukan oleh bibit tanaman. Oleh karena itu pilihlah bibit yang kita tahu persis sifat-sifatnya. Bebas dari hama dan penyakit tanaman. Untuk memastikannya biasanya bibit tersebut telah memiliki sertifikat dari komunitas atau lembaga terpercaya.
Terdapat dua jenis bibit tanaman, yaitu bibit hasil perbanyakan generatif (dari biji) dan bibit hasil perbanyakan vegetatif (cangkok, okulasi dan penyambungan).
Untuk budidaya tabulampot sebaiknya gunakan bibit hasil perbanyakan vegetatif. Kelebihan bibit hasil vegetatif yaitu sifat tanamannya bisa dipastikan, karena sama dengan sifat induknya. Sehingga keberhasilannya lebih mudah diprediksi. Selain itu, bibit perbanyakan vegetatif lebih cepat berbuah. Kekurangan bibit jenis ini akarnya kurang kuat sehingga tanaman mudah roboh atau mengalami kekeringan.

3.      Persiapan media tanam dan wadah tanam
Media tanam tabulampot bermacam-macam, yang penting harus bisa menyimpan air dan memasok nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Media tanam berfungsi sebagai tempat tumbuhnya akar dan untuk menopang postur tanaman.
Media tanam yang sering digunakan para pehobi antara lain campuran tanah, kompos dan arang sekam dengan komposisi 1:1:1. Bisa juga campuran tanah, pupuk kambing dan sekam padi dengan komposisi 1:1:1. Untuk menekan biaya, gunakan bahan baku yang banyak ditemui di lingkungan sekitar.
Tanah dan material organik di daerah tropis biasanya memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Bila bahan-bahan media tanam tersebut terlalu asam campurkan kapur pertanian atau dolomit ke dalamnya.
Setelah menyiapkan media tanam, selanjutnya siapkan pot sebagai wadah. Jenis pot bisa terbuat dari tanah liat, logam (drum), plastik, semen, kayu atau planterbag. Wadah tabulampot yang baik harus memiliki kaki atau alas yang memisahkan dasar pot dengan tanah. Hal ini penting untuk aliran drainase dan memudahkan pengawasan agar akar tanaman tidak menembus tanah. Pot dari berbahan tanah liat dan kayu sangat baik untuk tabulampot karena memiliki pori-pori sehingga kelembaban dan temperatur media tanam lebih stabil. Namun kelemahannya bahan-bahan tersebut tidak tahan lama.

4.      Cara penanaman
Berikut ini langkah-langkah untuk menanam bibit tanaman ke dalam wadah tabulampot :
-          Siapkan bahan-bahan media tanam, ayak dan buang kerikil-kerikil yang ada didalamnya. Campurkan bahan-bahan itu hingga merata.
-          Siapkan pot dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran tanaman. Sebaiknya dimulai dari ukuran pot yang kecil. Sehingga apabila tanaman semakin besar pot bisa diganti, sekaligus sebagai penanda untuk meremajakan media tanam.
-          Letakkan pecahan genteng pada dasar pot, satu lapis saja. Kemudian letakkan juga satu lapis ijuk atau sabut kelapa.
-          Kemudian isi dengan media tanam yang sudah disiapkan hingga setengah tinggi pot.
-          Untuk mengurangi penguapan, pangkas sebagian daun atau batang bibit tanaman. Kemudian buka polybag bibit tanaman, letakkan tepat ditengah-tengah pot. Timbun dengan media tanam hingga pangkal batang.
-          Padatkan media tanam di sekitar pangkal batang, pastikan tanaman sudah kuat tertopang. Siram dengan air untuk mempertahankan kelembaban.
-          Simpan tabulampot di tempat yang agak teduh untuk beradaptasi. Siram setiap pagi atau sore hari. Setelah satu minggu, letakkan tabulampot di tempat terbuka.

Perawatan tabulampot yang harus dilakukan antara lain :
1.      Penyiraman
Tabulampot yang telah jadi harus di letakkan di tempat terbuka dan terkena cahaya matahari sepenuhnya, minimal disinari matahari selama 8 jam sehari. Pada musim kemarau penyiraman dilakukan setiap hari, bisa pagi atau sore hari. Pada musim hujan penyiraman hanya dilakukan apabila media tanam terlihat kering. Penyiraman menggunakan selang air atau gembor.
2.      Pemangkasan
Setidaknya terdapat tiga tujuan pemangkasan tabulampot yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi dan pemangkasan peremajaan. Pemangkasan bentuk dilakukan untuk membentuk tajuk baru dan mengatur postur tanaman agar sinar matahari bisa menembus semua bagian tanaman. Selain dua fungsi itu, pemangkasan bentuk juga terkait dengan estetika.
Salah satu teori umum dalam memangkas bentuk tabulampot adalah 1-3-9. Artinya, dalam setiap 1 batang primer terdapat maksimum 3 batang sekunder dan dalam 1 batang sekunder maksimum terdapat 3 batang tersier. Batang yang dipilih untuk dibiarkan tumbuh adalah yang sehat dan kuat, sekaligus juga memiliki unsur estetika pada tanaman.
Pemangkasan produksi berkaitan dengan fungsi produksi tanaman. Pemangkasan dilakukan terhadap tunas air untuk merangsang pembungaan. Selain itu, pemangkasan dilakukan terhadap batang yang terlihat berpenyakit.
Terakhir pemangkasan peremajaan, dilakukan terhadap tanaman yang telah tua. Pada tabulampot yang sudah tua biasanya dilakukan penggantian media tanam dan pot (repotting). Pada fase ini, beberapa cabang perlu dipangkas. Bahkan pada kasus-kasus tertentu hanya menyisakan batang primer saja.
3.      Pemupukan
Media tabulampot memiliki cadangan nutrisi yang terbatas. Oleh karena itu pemupukan menjadi hal yang sangat vital. Pemupukan pertama dilakukan satu bulan setelah tanam. Selanjutnya dilakukan setiap 3-4 bulan sekali.
Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk organik. Jenisnya bisa kompos, pupuk kandang dan pupuk organik cair. Meskipun kandungan haranya tidak seakurat pupuk kimia, pupuk organik memiliki unsur hara yang lebih lengkap. Selain itu penambahan bahan-bahan organik akan merangsang aktivitas biologi dalam media tanam.
Pupuk kimia diperlukan pada saat-saat tertentu saja. Misalnya pada saat pembungaan dan pembuahan dimana tanaman memerlukan unsur-unsur hara makro seperti P dan K dalam jumlah banyak. Dan beberapa unsur mikro seperti Ca, Mn, Fe, dll. Dalam pupuk kimia unsur-unsur tersebut bisa dipastikan takarannya.
4.      Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit pada tabulampot sebaiknya dilakukan sejak dini, yakni sejak memilih bibit. Bibit unggul biasanya memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit tertentu. Belilah bibit dari sumber yang terpercaya dan memiliki sertifikat bibit.
Pencegahan serangan hama dan penyakit juga bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan media tanam dan kebun. Gulma dan semak belukar disekitar kebun bisa menjadi sumber hama dan penyakit. Bila tabulampot sudah terlanjur terserang hama atau penyakit, langkah pertama bisa diberantas secara manual. Misalnya dengan memungut ulat yang menyerang atau memangkas dahan yang terkena penyakit.
Pada saat tabulampot berbuah, lindungi buah dengan plastik atau jaring pelindung. Atau juga bisa dengan memasang perangkap hama, seperti penggunaan hormon feromon untuk memerangkap lalat buah.
Penyemprotan tabulampot dengan pestisida menjadi dilema. Biasanya tabulampot ditanam di pekarangan yang dekat dengan pemukiman. Pestisida kimia tentunya akan sangat berbahaya dan mencemari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, gunakan selalu pestisida organik. Silahkan baca tentang pestisida organik.
Apabila sangat terpaksa, penyemprotan dengan pestisida kimia bisa dilakukan. Lakukan dengan hati-hati, baca aturan dan dosis pakainya secara seksama. Penyemprotan hendaknya dilakukan secara terbatas.
5.      Pergantian media dan pot
Tabulampot yang telah mencapai ukuran tertentu perlu dipindahkan. Ruang tabulampot harus cukup untuk menopang ruang gerak tanaman. Pemindahan dilakukan sekaligus dengan pergantian media tanam. Pergantian media tanam dalam tabulampot tidak hanya berfungsi memindahkan tanaman pada pot yang lebih besar saja. Perlu juga dilakukan pemangkasan peremajaan. Misalnya, pemangkasan akar tanaman. Akar tanaman yang terus tumbuh akan membuat media tanam menjadi padat. Akar yang panjangnya lebih dari 25 cm harus dipangkas. Kepadatan akar juga harus dikurangi. Bersamaan dengan pemangkasan akar, daun dan batang juga dipangkas untuk mengurangi penguapan.
6.      Pembungaan/Pembuahan
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk merangsang pembungaan, seperti pemupukan, stress air, pelukaan dan pemberian zat pengatur tumbuh. cara-cara yang paling praktis adalah pemupukan . Perlakuan pemupukan dilakukan dengan cara :
1.      Sebelum dilakukan perlakuan, minimal 1 bulan sebelumnya tanaman telah diberi asupan yang cukup berupa pupuk organik. Pupuk organik yang diberikan bisa berupa pupuk organik murni seperti pupuk kandang atau kompos, bisa juga pupuk organik buatan yang tersedia dipasaran.
2.      Pastikan tanaman telah cukup umur dan tanaman benar-benar dalam keadaan sehat yang ditandai dengan pencabagan merata, warna daun hijau tua mengkilat dan tidak sedang terserang hama atau penyakit.
3.      Pastikan juga tanaman tidak sedang berpucuk/berdaun muda.
Setelah syarat-syarat 1 sampai 3 dipenuhi, perlakuan pemupukan untuk merangsang pembungaan dapat dilakukan dengan cara :
·         Berikan pupuk (unsur hara mineral makro) dengan kandungan Fosfor dan Kalium yang tinggi.
·         Jika pupuk yang digunakan tidak mengandung unsur mineral mikro, tambahkan unsur hara mineral mikro seperti Ca, Mg, Zn, dan lain-lain sebagai pelengkap.
·         Jika tanaman sudah mengeluarkan bunga, berikan pupuk dengan kandungan K yang lebih tinggi.
·         Sampai buah matang, ulangi pemberian pupuk berkandungan K yang cukup. Dengan demikian akan diperoleh buah yang lebih besar dan manis.
Demikian sedikit info tentang metode tabulampot. Semoga bisa menambah pengetahuan kita tentang beberapa metode yang bisa diterapkan untuk memanfaatkan pekarangan ruamh seoptimal mungkin.


Disusun Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.
Penyuluh pertanian di BP3K TERSONO KAB. BATANG
(dari berbagai sumber)


Rabu, 06 November 2013

KEGIATAN KWT DAHLIA SETELAH LEBARAN

Setelah sekian lama vakum dari kegiatan, akhirnya KWT Dahlia kembali beraktivitas : )
Pertemuan rutin KWT Dahlia kembali dilaksanakan per bulan Oktober kemarin. Alhamdulillah Ibu - ibu angota KWT Dahlia masih bersemangat untuk menghidupkan kembali kegiatan KWT meski telah mengalami beberapa perubahan besar menyangkut kondisi di desa.
Pada awal September, hasil lomba rumah sehat dan hatinya PKK yang di ikuti KWT Dahlia Desa Pujut mewakili Kecamatan Tersono telah diumumkan dan Alhamdulillah memperoleh Juara II Tingkat Kabupaten Batang. Semuanya berkat kerja keras Ibu - ibu anggota KWT Dahlia yang telah menyulap pekarangan rumahnya dengan berbagai tanaman sayur. 

KEGIATAN KWT DAHLIA SETELAH LEBARANDengan semangat membara ibu-ibu anggota KWT Dahlia bekerja bakti untuk persiapan lomba. Mengangkut tanaman sayur yang di polibag, membersihkan rumput di kebun KWT dan memasang foto  di papan kegiatan. Semuanya dilakukan dengan semangat gotong royong.



Jumat, 11 Oktober 2013

VERTIKULTUR DARI PARALON BEKAS


Dalam pemanfaatan pekarangan yang memiliki luasan sempit, metode tanam mengunakan pot dan vertikultur merupakan satu – satunya alternatif. Vertikultur merupakan sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat,  baik didalam ruangan  maupun  diluar ruangan.  Lahan  1  meter mungkin  hanya  bisa  untuk menanam  5 batang  tanaman,  dengan  sistem  vertikal  bisa  untuk  20  batang  tanaman.  Vertikultur tidak hanya sekadar kebun vertikal, namun ide ini akan merangsang seseorang untuk menciptakan  khasanah  biodiversitas  di  pekarangan  yang  sempit  sekalipun.  Struktur vertikal memudahkan  pengguna  membuat  dan  memeliharanya.  Pertanian  vertikultur tidak  hanya sebagai  sumber  pangan  tetapi  juga  menciptakan  suasana   alami  yang menyenangkan, terutama untuk memperindah halaman rumah.

Model,  bahan,  ukuran,  wadah  vertikultur  sangat  banyak dan variatif, tinggal  disesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan adalah paralon bekas. Berikut akan diuraikan cara membuat vertikultur dari paralon bekas.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan vertikultur dari paralon bekas antara lain :

·       Paralon ukuran minimal 5 inci, sebaiknya ukuran tinggi maksimalnya 1 meter saja supaya tidak ketinggian.
·       Gergaji
·       Meteran
·       Spidol atau pensil untuk menandai
·       Pemanas, bisa obor, lilin.
·       Pot atau baskom bekas (atau apa saja yang bisa dijadikan wadah untuk pot)
·       Semen dan pasir
·       Cat

Cara Membuat

1. Buat empat titik sentral di bagian atas atau bawah lubang paralon, gunanya untuk membagi paralon menjadi empat sisi yang sama. Titik sentral ini akan menjadi acuan dalam menarik garis lurus untuk digergaji.
 









 

 


2. Buatlah garis atau tanda untuk lubang di dinding paralon dengan acuan titik sentral tadi. Jarak antar garis atas bawah masing-masing 20cm. Lebar garis 6-10 cm, yang penting ujung garis tidak bersentuhan dengan ujung garis lainnya di kanan kiri. Buat garis-garis tersebut selang-seling. Sisi yang berhadapan depan belakang posisi garis-garisnya sama. Setelah semua garis jadi, gergaji sesuai ukuran.
 
 
 

3. Panaskan sisi bagian atas dari garis yang digergaji sampai agak lunak, lalu tekuk ke dalam menggunakan kain lap agar tangan tidak kepanasan. Tahan sebentar, lalu lepaskan, dengan sendirinya paralon akan mengeras bila sudah dingin.
 
 
4. Menyiapkan semen dan pot
 
Yang namanya vertikultur paralon sudah pasti memiliki bentuk memanjang dan penampangnya kecil. Jika tidak diberi pemberat, maka paralon akan mudah jatuh bila diterpa angin atau disentuh, apalagi kalau memasukkan media tanam dan tanamannya tumbuh membesar nantinya. Maka untuk menghindari hal itu, di bagian bawah paralon harus dicor atau disemen di dalam pot yang ukurannya disesuaikan. Lilitkan besi tipis atau kawat yang agak tebal (kalau ada) ke bagian bawah paralon agar cengkeramannya lebih kuat mengikat ke semen, kalau tidak ada juga tidak apa-apa. Tegakkan paralon dan pastikan posisinya lurus di dalam pot atau baskom (tidak perlu sampai menyentuh dasar pot), lalu masukkan adukan semen tadi ke dalam pot sampai tinggi secukupnya. Siram pot dengan air sampai penuh agar dihasilkan cor yang keras. Semen yang keras ini akan menjadi pemberat bagi paralon.
 
5. Agar tampilan lebih bersih dan rapi, cat paralon sesuai warna yang diinginkan. Jangan lupa juga membuat lubang pembuangan air berlebih di dinding bawah paralon (dekat semen).
 
 
Sekarang paralon bekas sudah berubah menjadi pot tanam yang cantik, tinggal diisi media tanam saja berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang/kompos.
Semoga sedikit paparan tentang pembuatan vertikultur dari paralon bekas bisa memberi inspirasi bagi anggota KWT Dahlia untuk variasi dalam pemanfaatan pekarangan. Sedikit kreatifitas akan memperindah tampilan pekarangan rumah kita.
 
Disusun Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.
Penyuluh pertanian di BP3K TERSONO KAB. BATANG
(Sumber : www.dkwek.com)